Showing posts with label Public Relations. Show all posts
Showing posts with label Public Relations. Show all posts
Jul 14, 2016
Pentingkah Database Media untuk PR?
Proses kerja public relations adalah proses yang membutuhkan konsistensi dan jangka waktu yang cukup panjang untuk memunculkan hasil yang baik, entah dalam hitungan bulan atau bahkan tahun. Dalam sepanjang prosesnya, peran seorang public relations officer tidak akan lepas dengan media secara institusi maupun personal, termasuk di dalamnya para awak media seperti reporter maupun editor. Sangat penting untuk bisa memaintain atau memelihara hubungan yang baik dan tepat sasaran dengan mereka. Untuk memudahkan, akan diperlukan database.
Mengapa Database?
Di Indonesia sendiri kini sudah banyak nama institusi media yang beredar dengan produk jurnalistiknya yang sangat beragam. Contoh saja, Trans Media milik Trans Corp. Dengan portal Detik.com, stasiun Trans TV, stasiun Trans7, dan portal CNN Indonesia. Kompas Group dengan harian Kompas, radio Sonora, portal kompas.com, dan stasiun Kompas TV. Dan sebagainya. Terbayang jika harus menghimpun data dari seluruh media yang ada, maka ada berapa banyak orang media yang harus di hafal dengan karakteristik pekerjaan mereka dan latarbelakang institusi yang dimiliki? Disini lah pentingnya untuk mempergunakan database.
Database akan mempermudah kita untuk melakukan komunikasi yang tepat sasaran dengan media. Database yang baik akan mencakup data selengkap mungkin tentang media tersebut dengan orang yang ada di dalamnya. Sebaiknya selain data profesi seperti asal media, desk berita, kontak profesi juga cantumkan biodata pribadi seperti tanggal lahir, asal daerah, kontak pribadi dan hal-hal yang bisa menyentuh personalnya secara langsung. Database yang baik juga harus bisa diakses dan dimengerti oleh staff PR lainnya.
| Contoh database media sederhana menggunakan Ms. Excel |
Bagaimana mengumpulkan data untuk database?
Metode pengumpulan data memang cukup sulit tapi bisa dicoba ketika dalam event yang mengundang mereka, berikan form media dan kartu identitas lainnya yang harus diisi ketika mereka hadir untuk liputan. Data inilah yang harus dipegang dan di-index dengan rapih agar nantinya kita bisa mensortir dan mencari data media dengan mudah. Bahkan untuk jumlah media yang sedikit, penggunaan database akan mengefisiensi waktu dan tenaga seorang PR.
Di berbagai kesempatan yang berhubungan dengan media, selalu mintalah data diri profesi maupun pribadi jika memungkinkan. Selain untuk menghimpun data baru, proses kompilasi data seperti ini juga bisa dilakukan untuk update data media yang sudah ada.
Bagaimana cara memperbaharui database media?
Data yang sudah terkumpul di database tentu harus selalu diperbaharui untuk mengurangi miss dalam menyampaikan pesan ataupun rilis berita. Seringkali dalam mengirim rilis kita tidak tahu apakah reporter itu masih bekerja di media yang sama, masih mengerjakan desk berita yang sama atau justru sudah menjadi editor atau bahkan sudah resign dan tidak bekerja di media lagi. Hal ini yang harus diantisipasi karena jika terjadi miss, konten berita tentu akan melenceng dari sasaran dan terlebih jika ada kesalahan penyebutan institusi media yang dituju, pastinya akan menimbulkan kesan negatif dari media.
Proses pembaharuan data bisa melalui berbagai cara. Yang paling sering dan mudah dilakukan adalah dengan menghubungi langsung orang media tersebut via telepon dan menanyakan kondisi profesinya saat ini. Cara lain adalah penghumpunan data ulang ketika mengundang mereka kedalam sebuah event seperti press conference atau memang media gathering yang rutin dilakukan. Jika didapati adanya perubahan, maka sesegera mungkin isi ke dalam database yang ada, atau jika data perubahan belum menyeluruh, tanyakan juga untuk data lain misal apakah di media baru yang berbeda mengerjakan desk berita yang berbeda juga atau sama seperti di media sebelumnya.
![]() |
| Contoh tampilan database media menggunakan software khusus |
Sekecil apapun, data berupa informasi tentang media sangat berharga bagi PR. Selanjutnya hanya bagaimana kita sebagai PR bisa menjaga, memperbaharui dan menganalisis data yang ada sebagai modal menyusun strategi pemberitaan yang baik.
Jun 8, 2014
Public Speaking? Ini Dia 10 Tipsnya
Public speaking atau berbicara di depan umum tidak akan lepas dari yang namanya latihan, latihan dan latihan. Hanya dengan berlatih kamu bisa apa yang bisa kamu dengar dan benahi kemudian mempelajari materi dengan baik. Merasa gugup sebelum berbicara di depan umum semisal presentasi itu suatu hal yang wajar dan natural. Justru akan bagus jika kamu merasa gugup, artinya kamu benar-benar memikirkan penampilan kamu sehingga akan mempersiapkannya sampai hal paling detil sekalipun. Tapi jangan sampai kamu merasa gugup yang berlebihan dan merasa tertekan. Salah-salah akan mengacaukan semua persiapkan yang sudah kamu rencanakan sematang itu dan berujung pada penampilan yang buruk.
Saya ada beberapa tips buat kamu yang ingin atau memang dituntut untuk melakukan public speaking. Dalam tips ini, kamu akan mengetahui bagaimana mengontrol kegugupan kamu dan menciptakan presentasi yang efektif serta berkesan.
1. Kuasai panggung
Ketika berbicara di depan umum, lingkungan itu adalah "panggung" untukmu. Bukan panggung dalam arti sebenarnya, tapi seluruh ruangan atau lingkungan dimana kamu berbicara adalah "panggung" milikmu. Dengan menguasai lingkungan, kamu akan merasa lebih nyaman dan lepas dalam berbicara. Berjalan-jalan lah sekitar "speaking area" dan berlatih menggunakan mikrofon beserta perangkat visual lainnya.
2. Kenali audiens
"Kenali musuhmu, maka kamu sudah memenangkan setengah peperangan", dalam konteks public speaking, dengan mengetahui karakteristik audiens, kamu bisa lebih "ramah" kepada mereka. Ibaratkan, kamu akan merasa nyaman ketika berbicara dengan teman ketimbang orang asing, bukan? Kenali mereka lebih dalam dan jadikan mereka "teman", kemudian kamu akan merasa nyaman dan mudah ketika berbicara dengan mereka.
3. Pahami materi
Siapa yang tidak takut dianggap kurang punya kredibilitas? Kita berbicara di depan umum, berarti kita diberi kepercayaan untuk memberi apa yang mereka inginkan. Inilah pentingnya menguasai dan memahami materi dengan baik. Dengan memahami materi, kita akan merasa nyaman ketika menjelaskan bahkan tak tanggung-tanggung dalam menjawab pertanyaan audiens. Pelajari, berlatih, dan koreksi jika memang diperlukan. Asah kemampuanmu sembari asah materimu sebaik mungkin.
4. Santai
Sering-sering lah berlatih. Dengan berlatih, kondisi mental dan fisikmu perlahan-lahan akan terbiasa dan menjadi santai ketika harus benar-benar tampil.
5. Bayangkan dirimu ketika berbicara
Bayangkan dirimu sedang berbicara dengan suara yang lantang, jelas dan meyakinkan. Ketika kamu membayangkan dirimu berhasil, maka pada kenyataannya kamu akan berhasil juga.
6. Sadari bahwa audiens tidak ingin anda gagal
Bukan untuk dijadikan sebagai beban, tapi dengan menyadari bahwa audiens mengharapkan dari penampilan kamu dari cara penyampaian hingga konten materi, kamu akan lebih menghargai setiap usaha yang sudah kamu keluarkan dan meminimalisir kesalahan-kesalahan.
7. Jangan meminta maaf
Ini mungkin kontras dengan apa yang sering terjadi, tapi pernahkan kamu tersadar ketika orang menyebutkan bahwa dirinya gugup atau memohon maaf atas kesalahannya, kita justru mencari kesalahan yang dia "sebutkan" padahal nyatanya baik-baik saja? Tapi ini tidak berlaku jika kita memang melakukan kesalahan yang benar-benar jelas terlihat dan fatal. Tapi jika selama presentasi lancar dan tidak ada masalah, jangan meminta maaf atau mereka akan menyadari ada sesuatu yang salah pada presentasimu.
8. Konsentrasi pada pesan, bukan medium
Fokus lah pada pesan dan audiens tanpa harus mencemaskan hal-hal yang sifatnya medium, seperti teknis dan hal yang sejenisnya. Dengan demikian, kamu bisa bicara lebih "nyaman" kepada audiens seakan kamu berbicara langsung dengan mereka tanpa "halangan" apapun. Untuk hal ini pastikan urusan teknis sudah rapi sebelum presentasi dimulai.
9. Ubah rasa gugup jadi energi positif
Gunakan energi gugupmu dan ubah menjadi rasa antusiasme dan tenaga yang lebih besar. Hal ini bersifat sugestif yang intinya motivasi diri sangat diperlukan dan yakinkan bahwa kamu tidak gugup.
10. Tambah pengalaman
Pengalaman berbuah percaya diri, dimana hal itu adalah kunci dari presentasi yang efektif. dengan seringnya kamu melakukan public speaking, maka kamu sudah mengetahui seluk-beluk bagaimana berbicara di depan umum mulai dari hal teknis sampai persiapan materi dan mental hingga evaluasi. Mereka yang sudah ahli pun sudah pasti banyak melakukan kesalahan ketika baru melakukan hal-hal ini. Jadi, jangan takut untuk terus mencoba karena pengalaman adalah pengajar yang terbaik.
Demikian 10 tips dalam berbicara di depan umum. Semoga membantu! Kuncinya, public speaking adalah seni dimana hal-hal teknis dikombinasi dengan faktor psikologis agar menciptakan penampilan yang berkesan. Sudah siap untuk berlatih lagi? Semoga presentasimu berkesan ya!
Public Speaking? Ini Dia 10 Tipsnya - Faiz Ridhal Malik
Image by google.com
Jun 5, 2014
Apa yang Terjadi dalam Press Conference?
Dalam kaitannya dengan kegiatan media relations, pasti akan kenal dengan salah satu kegiatan yang tidak asing, yaitu press conference. Press conference yang juga disebut sebagai konferensi pers atau pertemuan pers adalah sebuah event dimana perusahaan atau organisasi mengumumkan sebuah berita yang besar. Berita yang biasa disajikan melalui press conference pada umumnya adalah berita yang krusial atau membutuhkan atensi media secara langsung dan segera agar semakin cepat dan tepat dalam pemberitaannya. Berbeda dengan berita melalui press release pada umumnya, berita dalam press conference membutuhkan "special treatment".
Berita yang besar dan mencakup keseluruhan isi perusahaan atau organisasi secara langsung biasanya diutarakan oleh narasumber berupa "key person" seperti presiden atau CEO perusahaan, atau jika konteksnya berupa product launching, key person disini adalah orang yang memang dapat menjelaskan produk dengan baik, misal head of marketing atau sebagainya. Jadi, tidak semua kegiatan press conference akan diisi oleh CEO, tapi cukup dengan orang yang paham detil mengenai apa yang akan diberitakan sebagai perwakilan. Untuk jumlah narasumber sendiri tergantung dari pemberitaan. Jika sifatnya untuk satu organisasi atau perusahaan, biasanya hanya satu narasumber pun sudah terbilang cukup. Tapi jika isi pemberitaan itu menyangkut kepentingan perusahaan lain, tentu jumlah narasumber mengikuti kepentingan semua pihak, bisa dua ataupun lebih.
Lokasi yang biasa dijadikan tempat press conference bisa berupa tempat yang inovatif dan fun. Tapi kebanyakan dilakukan di ruang sebaguna dimana di depan terdapat podium yang dihadapi pada barisan kursi untuk undangan. Jenis lokasi seperti ini memang sudah umum. Tapi tidak jarang lokasi akan mengikuti tema berita. Misal, jika press conference mengenai kegiatan launching yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan, bisa saja lokasi berada di ruang serbaguna sebuah masjid. Atau jika pemberitaan tentang kegiatan promo atau kerjasama dengan taman hiburan, press conference juga bisa dilakukan di taman hiburan tersebut. Intinya adalah bagaimana membuat kesan yang santai pada undangan tapi tidak menutup tujuan utama diadakannya press conference itu sendiri, yaitu pemberitaan dapat disiarkan segera dan isinya sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Pada kegiatan press conference terdapat narasumber akan memberikan pemaparan mengenai berita yang akan disampaikan. Presentasi bisa menggunakan demonstrasi produk atau hanya dengan presentasi PowerPoint. Ketika sesi presentasi selesai, biasanya undangan diberikan sesi khusus untuk bertanya dan pada sesi ini, jawaban biasanya akan bersifat umum dan dijadikan dasar dari semua undangan. Tapi undangan yang dalam hal ini adalah reporter tentu menginginkan angle yang berbeda dan eksklusif dari yang lain. Maka dari itu, jika dirasa perlu, setelah sesi tanya-jawab selesai, akan ada kesempatan untuk bertemu dengan narasumber langsung secara empat-mata dalam beberapa menit untuk menemukan angle yang undangan inginkan. Untuk mengakomodasi hal ini, biasanya disediakan jadwal khusus dalam rangkaian kegiatan acara dan dilakukan secara terpisah dan dilakukan di ruang-ruang yang sifatnya privat.
Pada akhir sesi biasanya setiap undangan akan diberikan press kits yang sisinya berupa news release dan background information dari apa yang disampaikan narasumber. Press kits ini berguna bagi undangan yang terlambat atau meninggalkan lokasi terlebih dahulu dengan maksud agar mereka tetap bisa mengikuti informasi. Press kits ini selain berbentuk fisik juga sebaiknya disediakan dalam bentuk digital dan dikirmkan melalui e-mail pribadi undangan yang telah didata sebelumnya. Hal ini untuk mengantisipasi jika undangan tidak mendapat atau kehilangan press kits yang dibutuhkannya dalam menyusun berita. Ketika membagikan press kits ini, jika dalam kegiatan product launching juga bisa untuk memberikan product sample agar undangan bisa langsung mendapat gambaran produk atau hanya sebagai kenang-kenangan.
Ingin membuat kegiatan press conference atau sudah pernah terlibat di dalamnya?
Sebenarnya Apa yang Terjadi dalam Press Conference? - Faiz Ridhal Malik
Image by google.com
May 22, 2014
PR, Why I Love It So Much.
Ada kenalan yang bertanya, "Iz, kenapa concern ke humas sih? Padahal ada applied field lain di komunikasi." Wah, kalau ditanya begitu jawabannya beragam juga cenderung bingung malah. Saya sendiri kurang tahu betul kenapa saya (terlihat) concern atau setidaknya senang dengan bidang kehumasan atau sejenisnya. Tidak ada bayangan sama sekali ketika masih duduk di bangku SMA dulu untuk menjadi seorang humas, bahkan mendengar kata humas pun baru ketika kuliah alias nol besar kalau disebut punya alasan yang matang untuk mengambil kehumasan.
Berawal dari kegalauan tahun ketiga di SMA, semua teman sudah punya cita-citanya masing-masing dan ingin masuk jurusan apa. Ada yang akuntansi, sosiologi, ilmu pemerintahan, bahkan ada yang mau loncat ke kedokteran. Waduh! Terus saya harus lanjut kemana ini? Akhirnya berdasarkan screening yang minim dan ikut-ikutan teman, akhirnya coba pilih manajemen sebagai fokus utama. Kenapa manajemen? Karena saya kurang suka hitung-hitungan dan sangat senang dengan yang disebut strategi karena yang saya tahu proses manajerial itu penuh dengan strategi. Who knows?
Tapi apa daya, mungkin jurusan manajemen di kampus-kampus "itu" sudah diisi oleh calon-calon manajer yang lebih pantas baik otak ataupun dompet. Akhirnya ludes lah saya dari jurusan manajemen. Sebenarnya tidak sedih-sedih banget ketika ditolak, toh alasan saya juga bukan karena "manajemen"-nya tapi latarbelakang kenapa saya mau ambil manajemen, kegiatan strategis. Mungkin karena dinilai terlalu santai, di suatu hari ayah saya merekomendasikan suatu jurusan yang justru baru pernah dengar dan kabarnya cukup bagus, Ilmu Komunikasi. Belajar berkomunikasi atau belajar tentang IT? Meskipun dasarnya kosong, tetap saja saya mendaftar. Boom! Tiba-tiba diterima dan masuk. Disini saya malah jadi bingung, nanti saya belajar apa?
Bolak-balik bukan google, tanya teman lain yang kebetulan juga masuk di komunikasi dan akhirnya saya tarik satu poros, yaitu broadcasting! Camera person, presenter, editor, dan hal lainnya. "Waduh! Ini bukan gue banget!" Dan akhirnya menurut cerita salah satu tetangga saya, lulusan komunikasi tidak hanya berfokus pada broadcasting, tapi juga bisa ke pekerjaan yang sifatnya manajerial. Nah, disini mata saya mulai terbuka lebar. Saya kemudian kembali buka google untuk cari tahu sebenarnya bidang apa sih itu? dan bertemu lah saya dengan istilah public relations atau kehumasan.
Sejauh mata membaca, bidang ini bikin liur menetes karena sifatnya yang fleksibel tapi punya tupoksi yang jelas. Selain itu ada beberapa persyaratan softskill yang cocok dengan diri saya. Dari sisi strategi sendiri memang relatif sesuai dengan sub-bagian dari humas ini, tapi overall cocok dengan kemauan saya. Tapi yang namanya tidak mempraktekan secara langsung ya sama saja bohong. Semua tulisan itu mungkin saja benar, tapi mungkin juga salah karena itu semua pengalaman orang lain dan bukan saya sendiri. Lalu bagaimana? Akhirnya saya tetap ikuti proses sampai akhirnya resmi menjadi mahasiswa di kampus yang selalu bikin bingung ketika ditanya ini. "Kampusnya dimana? Oh, itu swasta ya? Di Jakarta mana kampusnya?" Gubrak!
Benar saja, selama menjalani semester awal, saya belajar mengenai dasar-dasar dari ilmu komunikasi termasuk kehumasan dan bidang lainnya. Dari sini saya jatuh cinta sama humas! Ternyata yang diceritakan oleh orang lain melalui blog pribadi mereka itu kebanyakan benarnya. Bidang ini penuh dengan taktik dan strategi! Penuh dengan perencanaan yang dituntut untuk sangat matang dengan eksekusi yang memiliki prediksinya sendiri and yes, I can find lot of fun things with PR!
Jadi, sebenarnya apa yang membuat saya senang dengan bidang kehumasan?
- Seperti game strategi. Kegiatan humas penuh dengan rencana dan eksekusi berprediksi lalu evaluasi.
- Dasarnya saya memang senang bicara bahkan dengan orang yang baru kenal sekalipun. It's so challenging!
- Banyak bidang yang bisa didalami. Media relations, investor relations, employee relations and many more!
- Image is absurd but you have to manage it correctly! More challenge!
- You just need your brain and mouth. As simple as that.
Jadi, apakah kamu juga tertarik pada dunia kehumasan?
PR: Why I Love It - Faiz Ridhal Malik
May 1, 2014
Bagaimana Seharusnya PR Universitas Menggunakan Social Media?
Sebagai Sebuah institusi besar, sudah menjadi kewajiban bagi sebuah universitas memiliki divisi komunikasi atau kehumasan yang baik dan fungsional. Hal ini mengingat banyaknya jumlah dan jenis publik yang harus ditangani dalam sebuah universitas. Untuk salah satu universitas negeri di Indonesia saja memiliki jumlah mahasiswa hingga angka 30.000 dan itu belum termasuk jumlah staff dan stakeholder yang lain. Dengan jumlah yang sedemikian besar, penanganan komunikasi didalamnya akan menjadi suatu hal yang amat kompleks dan butuh penanganan yang well-organized.
Di-era teknologi seperti ini, hampir seluruh (bukan sepenuhnya) Public Relations (PR) memasuki tahap new-PR dengan istilah PR 2.0 atau juga istilah lain yang menyebutnya dengan cyber-PR dan mulai meninggalkan PR konvensional. Dengan tingginya tingkat ketergantungan teknologi komunikasi, terlebih dengan mudahnya mengakses internet di lingkungan universitas, membuat aliran komunikasi tidak dapat dibendung. Hal ini membuahkan suatu tuntutan penyampaian informasi dan penanganan permasalahan secara segera dan real-time. Salah satu platform yang memudahkan dalam penyampaian informasi secara cepat dan tepat adalah social media.
Saat ini, dimana hampir seluruh universitas memiliki kepekaan sosial, tapi banyak diantaranya belum benar-benar memegang 'inti' dari social media dan menyentuh nilai potensialnya. Social media memberikan peluang yang besar dalam mengikat calon mahasiswa baru, mahasiswa aktif, alumni dan anggota komunitas lainnya. Tidak sedikit universitas yang menyadari adanya potensi itu dan berani mengeksekusinya dengan baik sehingga memberikan keuntungan, contohnya pada artikel "Top 100 Social Media Colleges" dari Student Advisor dan "20 Colleges Making Good Use of Social Media" dari USA Today. Apakah universitasmu benar-benar baik dalam menggunakan social media?
Berikut adalah beberapa gagasan secara umum untuk membentuk social media universitasmu agar menjadi lebih hebat.
1. Atur Strategi Lintas-Kampus
Manajemen social media tidak akan bisa terjadi jika ada kejadian apapun atau kekosongan. Meskipun peran sosial media seringkali berada pada marketing atau communication office, tapi sangat penting bagi social media manager untuk memiliki relasi yang kuat dengan departemen lintas-kampus dan menjaga komunikasi secara konstan.
Ketika alumnus mem-publish sesuatu di Twitter bahwa dia baru saja mendapatkan pekerjaan yang bagus, social media manager dari almamaternya dapat mengetahuinya dengan cepat dan menyampaikan tweet ucapan selamat. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Apakah social media manager memberitahu pada career center di universitasnya bahwa alumnus tersebut memiliki pekerjaan baru dan dimungkinkan menjadi mentor untuk mahasiswa (atau bahkan mengangkatnya menjadi staff)? Apakah social media manager meneruskannya pada bagian pengumpulan dana/pengembangan universitas bahwa alumnus yang sukses tersebut kemungkinan memiliki sumber finansial untuk memberi dana?
Coba pada contoh lain: Murid baru di SMA menanyakan pertanyaan pada laman Facebook universitas tentang program akademik dan menyebutkan bahwa dia tidak sabar untuk mendaftar dalam tiga tahun lagi. Apakah social media manager universitas menjawabnya dengan ramah, "Kami akan senang menerimamu!" atau memberitahu kantor admisi (penerimaan) bahwa murid baru SMA yang antusias ternyata menyelidiki universitasnya melalui Facebook?
Dalam contoh ini, kebanyakan universitas akan menjaga dialog di social media, sedangkan bagi universitas yang berpikiran kedepan, akan menjaga perbincangan yang ada dan secara pro-aktif membantu departemen yang terlibat dalam meningkatkan wawasannya.
2. Sertai dalam Pendidikan dan Pelatihan
Memiliki banyak follower di Twitter dan memiliki skor Klout yang tinggi memang bagus, tetapi pengukuran yang lebih penting dari sukses tidaknya social media sebuah universitas adalah ketika alumni atau mahasiswa bisa menggunakan social platform tersebut untuk bisa saling berhubungan.
Coba gunakan Linkedin sebagai contoh. Dengan bursa kerja yang tidak menentu, membangun jaringan profesional adalah yang terpenting. Mahasiswa yang baru lulus seharusnya dapat dengan mudah menghubungkan diri dengan alumni yang sukses. Di sisi lain, alumni harus bisa berhubungan satu sama lain untuk kesempatan bekerja.
Meskipun secara fakta, meskipun beberapa universitas begitu membanggakan puluhan dari ribuan alumni di Linkedin, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui bagaimana melakukan pencarian, bergabung dengan grup atau memperkenalkan diri. Hal ini membuat networking menjadi hal yang sulit.
Jawabannya adalah pelatihan dan pendidikan. Universitas yang progresif akan menawarkan workshop dan seminar tidak hanya untuk mahasiswa aktif, tetapi juga untuk alumni meskipun sudah lulus dalam hitungan dekade. Didalamnya memuat segalanya, mulai dari mencari alumni sampai etika dalam menyapa atau menulis pesan perkenalan. Universitas yang menawarkan pendidikan dan pelatihan memiliki jaringan yang kuat dan tajam dimana mahasiswa dan alumni bisa bertukar saran dan koneksi.
3. Libatkan Mahasiswa
Mahasiswa adalah "darah" dari institusi akademik dan mereka seharusnya berada dalam bagian dari strategi social media sebuah universitas. Mahasiswa memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan sesamanya, mendekati calon mahasiswa baru, dan menggetarkan hati alumni yang mengenang masa-masa kuliahnya. Sebagai bagian yang memahami kepribadian universitas dan akrab dengan aktivitas kemahasiswaan dan tradisinya, membuat memberikan mereka memiliki peranan penting dalam mempengaruhi, khususnya di social media.
Coba bayangkan dalam event kampus, mahasiswa banyak yang melakukan live-tweet, melakukan tanya-jawab online dengan calon mahasiswa baru, atau mewawancarai alumni yang sukses sebagai sebuah feature di YouTube. Sudah banyak universitas yang melibatkan mahasiswa dan mereka bisa dijadikan sebagai contoh. Kuncinya adalah, administrator universitas sebaiknya "meregangkan diri" dan memberi sedikit kebebasan, mengikuti semangat mahasiswanya dalam mengekspresikan semangat dan kreativitas universitas.
4. Ajak Rektor atau Perwakilan Universitasmu di Social Media
Untuk universitas yang memiliki pemikiran "ketinggalan jaman", mungkin saran ini akan dianggap absurd. "Rektor sedang sibuk. Tak perlu lah memiliki akun Twitter!" Tapi pada kenyataannya, puluhan rektor ternyata sudah memiliki akun Twitter dan kebanyakan dari mereka sudah memanfaatkannya dengan baik.
Di UW-Madison, Perwakilan universitas, Biddy Martin "berkicau" ke lebih dari 5.000 follower berisikan event kampus dan pertemuan-pertemuan, dan akhir-akhir ini menanggapi dan mengomentari dari komunitasnya. Rektor Ohio State University, E. Gordon Gee "berkicau" kepada lebih dari 18.000 follower tentang pencapaian mahasiswa dan fakultas, berita universitas dan perspektif dirinya tentang apa yang terjadi di dunia belakangan ini.
Ketika tweet (atau blog) seorang rektor di-publish, dia baru saja membentuk transparansi dan pertanda minat yang sesungguhnya dalam berkomunikasi dengan komunitas universitas. Mulai dari tweet rektor tentang sarapan paginya hari ini, berbagi berita menarik dari rapat-rapatnya atau melemparkan pertanyaan ke komunitasnya untuk dijawab, menjadi bukti bahwa komentar-komentar yang ada membuat lingkungan universitas menjadi lebih ramah dan terbuka tentunya. Sebagai tambahan, hal ini membawa pesan pada nilai inovasi dan makna modern universitas dalam komunikasi.
Demikian adalah sedikit gagasan dalam memperkuat keberadaan social media di universitas. Menurut pengamatanmu, bagaimana social media di universitasmu?
Faiz Ridhal Malik
Gambar dari google.com
Dec 10, 2013
Publisitas dan Iklan, Apa Yang Berbeda?
Publicity/Publisitas
Publisitas adalah sub-kategori dari public relations. Menurut PRSA (Public Relations Society of America), PR adalah fungsi manajemen yang menggunakan komunikasi untuk "membantu organisasi dengan publiknya agar saling berhubungan dengan baik".
Advertising/Iklan
Iklan adalah sub-kategori dari marketing. Secara spesifik, fungsi iklan melibatkan produk dan jasa perusahaan. Iklan adalah suatu bentuk komunikasi pesan yang "berbayar" melalui beragam media.
Lalu apa perbedaan antara publisitas dan iklan? Penjelasan paling sederhananya adalah bahwa publisitas itu "bebas biaya" sementara iklan itu "berbayar". Karena iklan berbayar, maka penentuan bunyi pesan, kapan dan dimana/melalui media apa pesan itu akan ditayangkan bisa kita kontrol sedemikian rupa. Kecuali jika memang ada hambatan yang merubah rencana.
Lain halnya dengan publisitas. Pesan dalam publisitas tidak bisa dikendalikan bagaimanapun caranya. Kamu tidak akan pernah bisa memastikan kapan artikel atau interview akan diangkat oleh media. Bukan hanya itu, kamu juga tidak bisa mengendalikan konten mana yang akan digunakan oleh media jika memang pasan akan diangkat. Itulah mengapa publisitas begitu memusingkan, karena tidak adanya kepastian. Kamu hanya bisa berharap untuk beritamu agar bisa dimuat.
Jika mengadakan sebuah PR event dan di sana kamu melihat beberapa reporter lengkap dengan kameranya, jangan senang dulu. Berita itu belum tentu akan diangkat oleh media dan mungkin saja akan tertutup oleh isu yang lebih kuat dan menarik perhatian publik dan siapa tahu beritamu ditayangkan di-jam malam yang audiensnya sedikit. Tugas publicist hanya sampai disitu saja. Ya, memastikan bahwa ada reporter di event-mu dan mempengaruhinya untuk bisa mengangkatnya di media. Selepas mereka pergi dari event-mu, itu sudah di luar jangkauanmu dan sudah menjadi keputusan media.
Tapi bukan berarti publisitas itu tidak bisa diandalkan. Publisitas memiliki kekuatan yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan iklan. Hal ini karena publisitas pasti dihubungkan dengan sesuatuu memiliki nilai berita atau informasi yang berguna dan menarik yang menjadikannya kekuatan untuk mempengaruhi publik. Contoh saja, kamu akan lebih tertarik dengan berita produk air mineral yang mendapatkan penghargaan karena jaminan mutu dan kebersihannya daripada iklan yang memuat konten yang sama, kan? Disana lah kekuatan dari publisitas. Meskipun ada beberapa iklan yang mencoba untuk memuat nilai berita di dalamnya, tapi tentu tidak sekuat publisitas yang sesungguhnya dalam mempengaruhi publik.
Atau contoh lain, ketika kamu memiliki usaha restoran kecil dan restoran-mu diliput oleh media, kutipan dari media itu bisa dijadikan sebagai alat penarik perhatian konsumen yang kekuatannya lebih besar 10 kali jika dibandingkan dengan iklan biasa, benar? Kamu pasti akan tertarik akan sesuatu yang "benar-benar dimuat media" daripada yang hanya "menumpang di media" kan?
Semoga dari penjelasan di atas kamu bisa lebih membedakan berbedaan antara publisitas dan iklan. Lain waktu saya akan bercerita tentang apakah publisitas sepenuhnya "bebas biaya" atau "gratis" dengan dampak publisitas bagi kamu (perusahaan) dan publik. Serta masih banyak hal lain tentang public relations yang masih saya pelajari untuk dibagikan dengan kamu. Semoga membantu!
____________________________________________
Semua informasi di atas berasal dari berbagai referensi literatur valid yang berbeda dan bertujuan untuk menambah wawasan saja.
Mohon untuk tidak menggunakannya sebagai sumber referensi utama pada tugas kuliah atau karya ilmiah.
Terima Kasih
Faiz Ridhal Malik




